Semerbak Jarak

oleh Achmad Hilmy Syarifudin

Di bawah gemerlap kehidupan malam kawasan Jarak-Dolly Surabaya, beradu ribuan pasang nafas manusia dalam keramaian pelanggan dewasa yang memenuhi setiap bilik kamar wilayah itu. Tak ada satupun manusia di Dolly yang tidak diuntungkan dari bisnis tersebut. Mulai dari tukang parkir, PSK, penjual makanan, hingga penjahit pakaian PSK-PSK itu pun menjadi diuntungkan dari adanya bisnis terlarang ini.

Namun, lampu-lampu yang menghiasi setiap rongga kehidupan malam di Dolly pun pada akhirnya harus redup juga. Tepat di tahun 2014, Pemerintah Kota Surabaya memutuskan untuk menutup lokalisasi yang ada di wilayah Jarak-Dolly. Penutupan wilayah Jarak-Dolly itu pun tak luput dari pro-kontra dari berbagai lapisan masyarakat setempat. Protes kian meluap baik dari kalangan warga Jarak-Dolly sendiri maupun dari pihak luar, namun pilihan pemerintah tetap bulat untuk menutup kawasan lokalisasi tersebut. Penutupan wilayah tersebut juga tidak serta merta mengabaikan sisi kemanusiaan pemerintah terhadap masyarakat sekitar yang tentu sangat terdampak. oleh karena itu, sang wali kota pun turun secara langsung memberikan alasan-alasan yang membuat Jarak-Dolly harus ditutup, serta memberikan solusi terbaik sebagai sumber kehidupan baru yang lebih manusiawi bagi masyarakat Jarak-Dolly tersebut.

Dalam waktu satu malam, kehidupan di Jarak-Dolly berubah 180 derajat. Hidup seakan tidak pandang bulu bagi warga Dolly, termasuk bagi Bu Fitria. Beliau adalah seorang penjahit pakaian-pakaian seksi yang dikenakan oleh para PSK Dolly-Jarak. Tak ada lagi PSK berarti tak ada lagi jahitan pakaian seksi, berarti hilanglah sudah pemasukan utama bagi usaha Bu Fitria. Untuk menyiasati permasalahan yang timbul akibat dari ditutupnya lokalisasi, Pemerintah Kota Surabaya mengadakan pelatihan pengembangan UMKM bagi masyarakat sekitar, salah satunya pelatihan membatik bagi warga Jarak-Dolly. Bu Fitria mejadi salah satu warga yang berpartisipasi dalam pelatihan tersebut. Sesuai keahliannya, Bu Fitri mengikuti pelatihan UMKM membatik.

Setelah berakhirnya pelatihan tersebut, Bu Fitria kemudian mendirikan sebuah UKM batik yang dinamakan UKM Jarak Arum. Nama ‘jarak’ diambil dari nama wilayah Jarak itu sendiri, sedangkan ‘arum’ dapat diartikan sebagai harum. Wilayah Jarak lekat dengan kesan kotor berkat hadirnya lokalisasi di wilayah tersebut. Melalui penamaan Jarak Arum, Bu Fitria memiliki mimpi untuk bisa mengubah pandangan masyarakat akan wilayah Jarak yang kotor menjadi Jarak yang harum.

Bukan perkara mudah untuk mengawali sebuah usaha batik, apalagi dengan pengetahuan dan pengalaman nol dalam bidang tersebut. Namun berkat kegigihan dan ketekunannya, Bu Fitria mampu membuktikan hasil yang memuaskan. Hal itu terbukti dari UKM Jarak Arum yang mulai berkembang pesat. Hasil karya batik Beliau dipuji oleh desainer kawakan Oscar Lawalata dalam sebuah agenda yang diikutinya, meskipun beliau sendiri terhitung sebagai pebisnis batik pemula dibandingkan peserta-peserta lainnya pada saat itu. Karya batiknya kemudian dibawa oleh Oscar Lawalata untuk dipamerkan dalam sebuah pameran di Paris, Perancis. Bahkan pernah dalam kurun waktu dua bulan, beliau memperoleh pesanan batik dengan omset mendekati 100 juta. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah usaha kecil menengah yang baru dirintis.

Dalam berkembangnya usaha batik Bu Fitri tersebut, membuat beliau harus memberdayakan 15 orang warga eks-lokalisasi Dolly, termasuk di antaranya adalah mantan PSK untuk dapat bekerja di UKM Jarak-Arum miliknya. Beliau tak memandang latar belakang seseorang. Bagi siapapun yang berminat untuk belajar, berkembang, dan bekerja bersama dengan UKM Jarak Arum, beliau akan menerima mereka dengan tangan terbuka.

Di setiap pantai yang indah, pasti akan ada saja ombak yang menerjang. Itu pula yang terjadi pada UKM Jarak Arum ketika pandemi menyerang di awal-awal tahun 2020. Tak sedikit UKM yang terdampak abrasi dari kikisan ombak pandemi Covid-19 tersebut. Banyak dari mereka yang akhirnya tumbang karena tak sanggup lagi menopang derasnya arus ombak yang datang silih berganti. Bahkan, UKM Jarak Arum pun sempat hampir tumbang karena sepi pesanan hingga tidak ada lagi pesanan batik yang dapat diproduksi dan dipasarkan.

Semenjak pandemi Covid-19, masker telah menjadi kebutuhan bagi siapapun yang masih ingin bertahan dalam gempuran pandemi global ini. Akibatnya, permintaan terhadap masker pun meningkat di mana-mana. Bu Fitria melihat ini sebagai sebuah peluang bagi usahanya untuk bisa bertahan dalam pandemi. Dari sisa-sisa kain batik yang ada, beliau membuat masker dengan motif batik khas UKM Jarak Arum, yaitu motif daun jarak dan kupu-kupu. Motif kupu-kupu pada batik UKM Jarak Arum memiliki filosofi yang menarik, yaitu menggambarkan suasana Jarak-Dolly pada masa lalu ketika lokalisasi masih dibuka, di mana para ‘kupu-kupu malam’ mewarnai kehidupan malam di wilayah tersebut. Keunikan dari motif batik itulah yang dirasa Bu Fitria menjadi nilai tambah bagi masker buatan UKM Jarak Arum.

Respon yang beliau dapat cukup memuaskan, banyak sekali pesanan masker yang menghampirinya hingga membuat beliau cukup kewalahan. Meskipun jumlah stok produk yang dia miliki kurang dari jumlah pesanan, beliau tetap menyetujui penawaran yang menghampirinya. Beliau tidak pernah sekalipun menolak pesanan sebanyak apapun jumlahnya. Selain untuk menjaga kepercayaan pelanggan, ada satu hal lain yang menjadi faktor dari pemikiran tersebut, rasa empati.

Tak semua UKM batik di Surabaya tepatnya di kawasan eks-lokalisasi Jarak-Dolly memiliki nasib semujur UKM Jarak Arum dalam menghadapi Covid-19. Melihat kondisi usaha teman-temannya yang kurang baik, beliau mengarahkan pesanan-pesanan yang tak bisa ia sanggupi kepada UKM-UKM batik lain di wilayah sekitarnya. Meski apa yang dilakukannya bukanlah suatu hal yang besar, setidaknya beban yang ada di pundak rekan sejawatnya dapat terangkat sedikit demi sedikit.

Sebagai salah seorang pelopor dari motif batik Surabaya, Bu Fitria sering mendapat tawaran liputan dari berbagai media lokal maupun nasional. Namun, acap kali beliau menolak tawaran liputan tersebut. Beliau bertanya-tanya, “Mengapa harus saya, bukan orang lain? Apakah masyarakat tidak akan bosan melihat nama UKM Jarak Arum selalu disebut di media sejak tahun 2014?”. Beliau merasa hal ini akan menciptakan sebuah miskonsepsi bahwasanya tidak ada perkembangan pada ekosistem UKM batik di Surabaya.

Faktanya, UKM batik di Surabaya terutama di kawasan eks-lokalisasi Jarak-Dolly sedang dalam masa giat-giatnya. Apabila miskonsepsi ini diteruskan, bisa-bisa pengrajin batik Surabaya lainnya akan kehilangan semangat. Masyarakat pun akan menganggap perkembangan batik Surabaya yang digembar-gemborkan oleh media sebagai suatu settingan belaka.

Maka dari itu, setiap beliau mendapat tawaran liputan, beliau akan merekomendasikan teman-teman pengrajin batik Surabaya lainnya. Alih-alih merasa sakit hati, Bu Fitria malah merasa senang dengan hal tersebut. Menurutnya, ini dapat memicu semangat dari kawan-kawan pengrajin batik Surabaya lainnya untuk bisa melangkah maju. Bu Fitriya memang ingin terbang tinggi, namun bukan berarti beliau bersedia untuk terbang sendiri.

Pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan bagi pengrajin batik rumahan seperti Bu Fitria. Akan tetapi, tantangan tidak selalu berakhir menjadi hambatan, ia pun bisa menjadi batu loncatan untuk kita terus berinovasi dan berguna bagi sesama.

Sama seperti kereta, Bu Fitria yang kita kenal berangkat dari rakitan komponen-komponen pengalaman dan pengetahuan, yang didapatkannya sejak ia belum merintis UKM Jarak Arum. Pandemi ini hanyalah sebuah stasiun pemberhentian sementara bagi Bu Fitria. Melalui pemberhentian ini, ia pun dapat menaikkan lebih banyak mimpi dan harapan ke dalam gerbong-gerbong keretanya.

Kini, pandemi sudah kian mereda. Kereta itu pun semakin tak gentar untuk terus melaju, membawa impian dan harapan tersebut dalam tamasya menyusuri naik dan turunnya kehidupan yang fana ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.