Menebar Rahmat: SMAN 19 Surabaya Peringati Maulid Nabi dengan Bakti Sosial dan Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Surabaya, 12 September 2025 – Dalam rangka memaknai kelahiran Nabi Muhammad SAW, SMA Negeri 19 Surabaya menggelar peringatan Maulid Nabi 1447 Hijriyah. Acara ini tidak hanya berfokus pada perayaan, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan akhlakul karimah. Rangkaian kegiatan diawali dengan bakti sosial, di mana siswa-siswi mengumpulkan berbagai barang untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan, termasuk siswa yang kurang beruntung dan Panti Asuhan Jalinan Mulia Sejahtera.

Pagi itu, hari Jumat di sekolah dimulai dengan momen kebersamaan yang hangat. Seluruh siswa sarapan bersama di kelas dengan wali kelas masing-masing, sebelum kemudian berkumpul di masjid untuk mengikuti acara inti. Suasana masjid pun langsung meriah dengan penampilan pembuka dari grup Banjari dan Tari Saman, sebuah tarian khas suku Gayo dari Aceh yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.
Refleksi dan Teladan Rasulullah
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Bapak Roma Dara Citata, M.Pd., Gr. Beliau menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar perayaan seremonial. “Pelaksanaan maulid nabi tidak hanya sekadar perayaan, namun juga harus dimaknai dengan meneladani sifat, akhlak, dan kisah Rasulullah SAW dalam mengajak kepada kebaikan,” pesannya. Beliau berharap peringatan ini menjadi sarana refleksi pribadi agar setiap siswa bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berakhlakul karimah.

Sesi inti acara diisi dengan tausiyah yang mendalam oleh Ustaz Mawahib Almasyhadi. Beliau mengawali tausiyah dengan mengutip Surah Yunus ayat 58 dan Surah Al-Anbiya ayat 107, yang menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW adalah sebuah rahmat bagi seluruh alam. Ustaz Mawahib juga menceritakan kisah Abu Lahab yang diringankan siksanya karena berbahagia atas kelahiran Nabi, sebagai bukti betapa besar rahmat tersebut.
Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua: Kisah ‘Alqamah
Salah satu pesan paling menyentuh yang disampaikan oleh Ustaz Mawahib adalah melalui kisah seorang sahabat, ‘Alqamah. Meskipun dikenal sebagai ahli ibadah yang rajin shalat, puasa, dan bersedekah, ‘Alqamah menemui kesulitan saat sakaratul maut karena durhaka kepada ibunya.

Dari kisah ini, Ustaz Mawahib mengajak para siswa untuk mengambil beberapa pelajaran berharga:
- Jangan melalaikan hak orang tua demi mementingkan pasangan hidup.
- Amal ibadah tidak akan bermanfaat jika hati orang tua terluka, kecuali ada perbaikan sikap dan tobat.
- Siksa akhirat jauh lebih berat daripada siksaan dunia.
- Besarnya kasih sayang seorang ibu, yang bahkan saat hatinya terluka, tetap memaafkan demi kebahagiaan anaknya.
“Inilah indahnya sebuah proses, bukan hanya menghasilkan karya, tapi juga menumbuhkan kebersamaan, rasa peduli, dan semangat totalitas tanpa batas yang harus mereka kobarkan sampai kapanpun,” pungkas Ustaz Mawahib, menutup tausiyahnya.
Peringatan Maulid Nabi di SMAN 19 Surabaya ini menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah bahwa meneladani Rasulullah SAW adalah sebuah proses yang harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan, dari akhlak, ibadah, hingga bakti kepada orang tua.